Senin, 13 Februari 2012

Pengembangan Kepribadian Guru


BAB I
PENDAHULUAN

I.       Latar Belakang
Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibandingkan profesi lainnya. Ungkapan yanh sering dikemukakan adalah ”guru bisa digugu dan ditiru”. Guru sering dijadikan panutan oleh masyarakat, untuk itu guru harus mengenal nilai-nilai yang dianut dan berkembang di masyarakat tempat melaksanakan tugas dan bertempat tinggal.
Sebagai teladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupannya adalah figur yang paripurna. Itulah kesan terhadap guru sebagai sosok yang ideal.
Saat ini pengembangan kepribadian guru terus dilakukan baik itu oleh pemerintah maupun oleh kepala sekolah. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan tenaga pendidik yang berkompeten dan berkualiras.

II.    Rumusan Masalah
A.    Apa yang dimaksud dengan pengembangan kepribadian guru?
B.     Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian?
C.     Apa saja Faktor-faktor penghambat pengembangan diri?
D.    Bagaimana upaya pengembangan kepribadian guru saat ini?
E.     Bagaimana Upaya Meningkatkan Kompetensi guru?

III. Tujuan Pembahasan
A.    Mengetahui pengertian pengembangan kepribadian guru
B.     Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian
C.     Mengetahui Faktor-faktor penghambat pengembangan diri
D.    Mengetahui upaya pengembangan kepribadian guru saat ini
E.     Mengetahui Upaya Meningkatkan Kompetensi guru
BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian pengembangan kepribadian guru
Kepribadian adalah keadaan dalam diri seseorang yang menentukan bagaimana penampilannya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. [1]
Menurut G.W Allpont pengertian kepribadian adalah “Kepribadian adalah suatu organisme yang dinamis dalam diri individual sistem psikofisiknya menentukan karakteristik, tingkah laku serta berpikir seseorang”
Sedangkan A. Moslow berpendapat bahwa setiap individu mempunai potensi-potensi. Sehingga dapat menampilkan kemampuan-kemampuan yangn unggul dalam berbagai bidang ( self actualizers) individu yang demikian ditandai oleh :
1.      Orientasi yang realistik (realistic orientation), individu mampu mempresentasikan realitas secara efisien.
2.      Menerima diri, orang lain dan dunia (acceptance of self, other and the world).
3.      Spontanitas
4.      Berorientasi pada masalah, bukan pada diri pribadi (problem centerness, not self-centeradness)
5.      Pemencilan (detachment)
6.      Otonomi dan mandiri (autonomy and independence)
7.      Menghargai oranglain dan benda-benda lain (appreciation) responnya luwe, tidak kaku dan stereotipi
8.      Terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru (spontaneity of experience)
9.      Memiliki perasaan dasar untuk memberi perhatian kemanusiaan (identification with man-kind)
10.  hubungan antar pribadi yang mendalam ( deepness interpersonal relationship) [2]
Dalam islam kepribadian sering diidentikan dengan akhlak. Akhlak seorang guru menurut Islamyaitu harus ikhlas; sopan;tawadhu; tidak sombong; baik terhadap sesama guru, peserta didik, dan masyarakat; adil/ tidak diskriminatif; menyayangi muridnya; sabar dan rela berkorban; tidak materialis, berwibawa, periang, dan sederhana; berpengetahuan luas; menguasai materi; dan toleran terhadap ilmu lain; memahami kemampuan dirinya; dan selalu mengamalkan ilmunya. [3]
Pengembangan Pribadi adalah Usaha individu agar memahami dirinya sendiri, yaitu : minat-minatnya, kemampuan-kemampuannya, hasrat-hasratnya, dan rencana-rencananya dalam menghadapi masa depannya.[4]
Faktor terpenting bagi seorang guru adalah kepribadiannya. Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan Pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat sekolah dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).[5]
Kepribadian guru mempunyai kelebihan sendiri bila diterapkan dalam kelas karena ia akan memberikan kecenderungan dan kesenangan yang berbeda kepada murid. Namun ada juga yang mengatakan bahwa kepribadian guru sulit ditemukan kadarnya dan tidak mudah untuk dicari batasannya serta sulit juga untuk didefinisikan secara jamik dan manik. Kepribadian juga diibaratkan sebagai magnit, listrik dan radio yang tidak bisa diketahui kecuali setelah tahu bekasnya.[6]


B.     Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian        
Bagaimana kepribadian itu berkembang :
1.      Faktor bawaan
Unsur bawaan genetic ( ciri fisik : warna kulit, mata, rambut ) dan kecenderungan dasar ( kepekaan, bakat, potensi diri / IQ )
2.      Faktor lingkungan
Lingkungan sekolah, social / budaya ( seperti : teman, guru ) dan perluasan wawasan ( karena : pendidikan formal / informal, perjalanan / pergaulan )
3.      Interaksi antara bawaan dan lingkungan
Interaksi yang terus menerus antara bawaan dan lingkungan menyebabkan timbulnya perasaan AKU / DIRIKU dalam diri seseorang.
Contoh : Anak yang sering dipukul maka cenderung pada saat dewasa menjadi sadis, kejam. Pengalaman masa kanak-kanak [7]

C.    Faktor-faktor penghambat pengembangan diri [8]
Faktor yang berasal dari diri sendiri :
1.      Tidak punya tujuan hidup yang jelas;
2.      Individu kurang termotivasi;
3.      Ada keengganan untuk menelaah diri sendiri ( takut menerima kenyataan karena memiliki kekurangan / kelemahan );
4.      Orang yang usianya sudah tua tidak melihat bahwa kearifan dan kebijaksanaan bisa dicapai;
5.      Merasa tidak ada tantangan;
6.      Merasa tidak mampu;
7.      Sudah merasa puas;
8.      Merasa tidak berharga.
Faktor penghambat yang berasal dari lingkungan :
1.      Sistem yang dianut ( di lingkungan : pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal );
2.      Tanggapan, sikap atau kebiasaan dalam lingkungan kebudayaan ( kebiasaan atau tradisi, misalnya : isteri sebagai pengurus rumah tangga sulit berkembang dalam bidang profesi yang diminati ).

D.    Upaya pengembangan kepribadian guru
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, kompetensi guru merupakan salah satu faktor yang amat penting. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan prilaku yang harus dimilik, dihayati, dan dikuasi oleh guru dalam melaksanakan tugas professional. Menurut Spencer (1993) kompetensi adalah suatu sifat yang berhubungan dengan kriteria keefektifan dan kinerja yang sangat baik dalam suatu pekerjaan. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogic, kompetensi personal, kompetensi sosial,  kompetensi professional.[9]
Kompetensi guru pada hakikatnya tidak bisa lepas dari konsep hakikat guru dan hakekat tugas guru(Spencer 1993:7). Kompetensi guru mencerminkan tugas dan kewajiban guru yang harus dilakukan sehubungan dengan arti jabatan guru yang menuntut suatu kompetensi tertentu sebagaimana telah disebutkan. Ace Suryadi (1999:298-304) mengemukakan bahwa untuk mencapai taraf kompetensi seorang guru memerlukan waktu lama dan biaya mahal.[10]
Dewasa ini kompetensi guru baik kompetensi social, kepribadian (individual), pedagogik, dan professional belum memadai. indikator rendahnya kompetensi guru ditandai dengan:
1.      Kurangnya kematangan emosional (kepribadian)
2.      Lemahnya motivasi dan dedikasi (kepribadian)
3.      Lemahnya penguasaan bahan ajar (profesional)
4.      Metode pembelajaran belum efektif (profesional)
5.      Kurangnya kemandirian berpikir (profesional)
6.      Komunikasi pembelajaran yang belum efektif (sosial)
7.      Kurang memahami landasan pendidikan, psikologi pendidikan, manajemen kelas, materi dasar ajaran islam (pedagogik)
8.      Lemahnya pemahaman kurikulum (pedagogik)
9.      Tidak menguasai PBM (profesional dan pedagogik)
10.  Tidak mengetahui cara melakukan evaluasi dan pengukuran hasil belajar; guru belum mampu menunjukan kinerja yang memadai.[11]
Faktor penyebab rendahnya kompetensi yaitu karena secara kualifikasi tidak seluruh guru memahami latar belakang pendidikan yang memadai dan terdapat guru yang tidak sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. Idealnya guru memiliki kompetensi yang diperlukan dalam melaksanakan tugas baik kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional.[12]

Kompetensi yang harus dimilik oleh seorang pendidik:[13]
1)      Kompetensi Pedagogik Guru
Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen  dikemukakan kompetensi pedagogik adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”.  Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran.”
“Kompetensi Menyusun Rencana Pembelajaran” menurut Joni (1984:12), adalah kemampuan merencanakan program belajar mengajar mencakup kemampuan:
1.      merencanakan pengorganisasian bahan-bahan pengajaran
2.      merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar
3.      merencanakan pengelolaan kelas
4.      merencanakan penggunaan media dan sumber pengajaran
5.      merencanakan penilaian prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi penyusunan rencana pembelajaran meliputi:
1.      mampu mendeskripsikan tujuan
2.      mampu memilih materi
3.      mampu mengorganisir materi
4.      mampu menentukan metode/strategi pembelajaran
5.      mampu menentukan sumber belajar/media/alat peraga pembelajaran
6.      mampu menyusun perangkat penilaian
7.      mampu menentukan teknik penilaian
8.      mampu mengalokasikan waktu.

2)      Kompetensi Kepribadian Guru
Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (di contoh sikap dan perilakunya).Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik.
Sebagai seorang model guru harus memiliki kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (personal competencies), di antaranya:
1.      kemampuan yang berhubungan dengan pengalaman ajaran agama sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya;
2.      kemampuan untuk menghormati dan menghargai antarumat beragama;
3.      kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan norma, aturan, dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat;
4.      mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang guru misalnya sopan santun dan tata karma dan;
5.      bersikap demokratis dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.


3)      Kompetensi Sosial
Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi sosial adalah kemampuan yang diperlukan oleh seseorang agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan dalam interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial.
Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, menjelaskan kompetensi sosial guru adalah salah satu daya atau kemampuan guru untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang baik serta kemampuan untuk mendidik, membimbing masyarakat dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang.
Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004:63) mengemukakan kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.
Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi sosial mengharuskan guru memiliki kemampuan komunikasi sosial baik dengan peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, bahkan dengan anggota masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas, kompetensi sosial guru tercermin melalui indikator (1) interaksi guru dengan siswa, (2) interaksi guru dengan kepala sekolah, (3) interaksi guru dengan rekan kerja, (4) interaksi guru dengan orang tua siswa, dan (5) interaksi guru dengan masyarakat.

4)      Kompetensi Profesional Guru
Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam”. Maksudnya, kompetensi profesional adalah kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyesuaian tugas-tugas keguruan.
Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi profesional adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional. Kompetensi profesional meliputi kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya.
Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan kompetensi profesional guru mencakup kemampuan dalam hal:
1.      mengerti dan dapat menerapkan landasan pendidikan baik filosofis, psikologis
2.      mengerti dan menerapkan teori belajar sesuai dengan tingkat perkembangan perilaku peserta didik
3.      mampu menangani mata pelajaran atau bidang studi yang ditugaskan kepadanya
4.      mengerti dan dapat menerapkan metode mengajar yang sesuai
5.      mampu menggunakan berbagai alat pelajaran dan media serta fasilitas belajar lain
6.      mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pengajaran
7.      mampu melaksanakan evaluasi belajar
8.      mampu menumbuhkan motivasi peserta didik.
Tingkat keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi sebagai berikut:
1.      kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai baik tujuan nasional, institusional, kurikuler dan tujuan pembelajaran
2.      pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham tentang tahapan perkembangan siswa, paham tentang teori-teori belajar
3.      kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya
4.      kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran
5.      kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar
6.      kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran
7.      kemampuan dalam menyusun program pembelajaran
8.      kemampuan dalam melaksanakan unsur penunjang, misalnya administrasi sekolah, bimbingan dan penyuluhan
9.      kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja.
Apabila syarat-syarat profesionalisme guru di atas itu terpenuhi akan mengubah peran guru yang tadinya pasif menjadi guru yang kreatif dan dinamis. Pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian secara global, karena guru memiliki tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era hiperkompetisi.

E.     Upaya Meningkatkan Kompetensi guru
Cara untuk meningkatkan kompetensi guru di antaranya:
1.      Meningkatkan penguasaan materi pelajaran, pengetahuan PBM, dan evaluasi belajar melalui: pelatihan, belajar mandiri, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
2.      Meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan murid, dengan sesama guru, dengan TU, kepala sekolah, dan dengan warga masyarakat sekitar.
3.      Berlatih menampilkan perilaku sesuai dengan pribadi guru yang dikehendaki.
4.      Dapat juga dilakukan melalui optimalisasi peran kepala sekolah sebagai : educator, manajer, administrator, supervisor, leader,pencipta iklim kerja, dan wirausahawan.
5.      Selain oleh kepala sekolah penigkatan kompetensi guru juga dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk sertifikasi guru, UU guru dan dosen, dll. [14]

SIMPULAN

Kepribadian adalah keadaan dalam diri seseorang yang menentukan bagaimana penampilannya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya
Pengembangan Pribadi adalah Usaha individu agar memahami dirinya sendiri, yaitu : minat-minatnya, kemampuan-kemampuannya, hasrat-hasratnya, dan rencana-rencananya dalam menghadapi masa depannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian   
1.      Faktor bawaan
2.      Faktor lingkungan
3.      Interaksi antara bawaan dan lingkungan
Faktor-faktor penghambat pengembangan diri
v  Faktor yang berasal dari diri sendiri :
1.      Tidak punya tujuan hidup yang jelas;
2.      Individu kurang termotivasi;
3.      Ada keengganan untuk menelaah diri sendiri ( takut menerima kenyataan karena memiliki kekurangan / kelemahan );
4.      Orang yang usianya sudah tua tidak melihat bahwa kearifan dan kebijaksanaan bisa dicapai;
5.      Merasa tidak ada tantangan;
6.      Merasa tidak mampu;
7.      Sudah merasa puas;
8.      Merasa tidak berharga.
v  Faktor penghambat yang berasal dari lingkungan :
1.      Sistem yang dianut ( di lingkungan : pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal );
2.      Tanggapan, sikap atau kebiasaan dalam lingkungan kebudayaan ( kebiasaan atau tradisi, misalnya : isteri sebagai pengurus rumah tangga sulit berkembang dalam bidang profesi yang diminati ).
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, kompetensi guru merupakan salah satu faktor yang amat penting. Kompetensi guru meliputi :
1.      kompetensi pedagogic,
2.      kompetensi personal,
3.      kompetensi sosial, 
4.      kompetensi professional.
Cara untuk meningkatkan kompetensi guru di antaranya:
1.      Meningkatkan penguasaan materi pelajaran, pengetahuan PBM, dan evaluasi belajar melalui: pelatihan, belajar mandiri, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
2.      Meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan murid, dengan sesama guru, dengan TU, kepala sekolah, dan dengan warga masyarakat sekitar.
3.      Berlatih menampilkan perilaku sesuai dengan pribadi guru yang dikehendaki.
4.      Dapat juga dilakukan melalui optimalisasi peran kepala sekolah sebagai : educator, manajer, administrator, supervisor, leader,pencipta iklim kerja, dan wirausahawan.
5.      Selain oleh kepala sekolah penigkatan kompetensi guru juga dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk sertifikasi guru, UU guru dan dosen, dll.


DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiah. 2005. Kepribadian Guru. Jakarta: Bulan Bintang.
Ruswandi, Uus dan Badrudin. 2010. Pengembangan Kepribadian Guru. Bandung: Insan Mandiri.
http://eisya-personality.blogspot.com/
http://exiaprasetya.wordpress.com/
http://pojokilmulain.wordpress.com/2008/12/26/pengertian-pengembangan-kepribadian/
http://uki2000.wordpress.com/2009/10/23/konsep-kepribadian-guru/



[1] http://eisya-personality.blogspot.com/
[2] http://pojokilmulain.wordpress.com/2008/12/26/pengertian-pengembangan-kepribadian/
[3] Uus, Ruswandi.2010. Pengembangan Kepribadian Guru. Hal 48
[4] http://eisya-personality.blogspot.com/
[5] Daradjat, Zakiah. 2005. Kepribadian Guru. Hal 9
[6] http://uki2000.wordpress.com/2009/10/23/konsep-kepribadian-guru/
[7] http://eisya-personality.blogspot.com/
[8] ibid
[9] Uus, Ruswandi.2010. Pengembangan Kepribadian Guru. Hal 45
[10] http://exiaprasetya.wordpress.com/2010/05/12/empat-kompetensi-dasar-guru/
[11] Uus, Ruswandi.2010. Pengembangan Kepribadian Guru. Hal 45-46
[12] Ibid.hal 46
[13] http://exiaprasetya.wordpress.com/
[14] Uus, Ruswandi.2010. Pengembangan Kepribadian Guru. Hal 48-49

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar