Translate

Senin, 13 Februari 2012

Sejarah Perkembangan Hadits


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Keberadaan hadits sebagai salah satu sumber hukum dalam islam memiliki sejarah perkembangan dan penyebaran yang kompleks. Sejak dari masa pra kodifikasi, zaman Nabi, Sahabat dan Tabi’in hingga setelah pembukuan pada abad ke-14.
Perkembangan hadits pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis hadits. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan tercampurnya nash Al-Qur’an dengan hadits. Selain itu juga disebabkan fokus Nabi pada para Sahabat yang bisa menulis untuk menulis Al-Qur’an. Larangan tersebut berlanjut sampai pada masa tabi’in besar. Bahkan dengan Khalifah yang lain. Periodesasi penulisan dan pembukuan hadits secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd Aziz (abad 2 H).
Terlepas dari naik turunnya perkembangan hadits, tak dapat dinafikan bahwa sejarah perkembangan hadits memberikan pengaruh besar dalam sejarah peradaban islam.
B.     Rumusan Masalah
Ø  Apa yang dimaksud dengan kodifikasi hadits?
Ø  Mengapa hadits dikodifikasikan?
Ø  Bagaimana sistem kodifikasi dalam hadits?
C.     Tujuan Pembahasan
Ø  Mengetahui pengertian kodifikasi hadits.
Ø  Mengetahui alasan – alasan pengkodifikasian hadits.
Ø  Mengetahui sistem kodifikasi dalam hadits.
D.    Manfaat Pembahasan
Adapun manfaaat dari penyusunan makalah ini adalah sebagai bahan presentasi kelompok kami. Selain itu agar mahasiswa lebih mengenal sejarah hadits pada masa, pra, dan pasca kodifikasi.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kodifikasi Hadits
Secara luas tadwin (kodifikasi) diartikan dengan al-jam’u (mengumpulkan). Al-zahrani merumuskan pengertian tadwin sebagai berikut:
            تقييد المتفرَق المتشَتت وجمعه في ديوان اوكتاب تجمع فيه الصحف
“mengikat yang berserak-serakan kemudian mengumpulkannya menjadi satu duiwan atau kitab yang terdiri dari lembaran-lembaran.”
Sementara yang disebut dengan tadwin hadits pada periode ini adalah pembukuan (kodifikasi) yang resmi yang berdasarkan perintah kepala negara. Dengan melibatkan beberapa personil yang ahli di bidangnya. Bukan yang dilakukan secara perseorangan atau untuk kepentingan pribadi, seperti yang terjadi pada masa Rasul SAW.
Setelah Rasulullah Saw wafat, perhatian sahabat terfokus pada pengumpulan dan penulisan Al-Qur’an. Mereka kurang memperhatikan hadits karena takut terjadinya pencampuran hadits dan Al-Qur’an dan dikhawatirkan kaum muslimin lebih tergantung pada hadits daripada Al-Qur’an. Selain itu, sahabat dan meriwayatkan hadits pada waktu sangat hati – hati, hal ini ditujukan untuk menjaga kemurnian hadits agar terhindar dari sisipan – sisipan yang ditambahkan oleh orang – orang munafik. Hal ini akan dibahas lebih rinci pada pembahasan selanjutnya.

B.     Faktor – Faktor yang Menyebabkan Hadits Dikodifikasikan
Proses pengkodifikasian hadits secara resmi pertama kali dicetuskan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz (khalifah ke 8 dari Daulah Umayyah) pada tahun 101 H.
 Faktor – faktor yang mendorong timbulnya usaha pengkodifikasian hadits, diantaranya:
1)      Banyaknya sahabat dan tabi’in penghafal hadits yang meninggal dunia akibat perang pada akhir abad I H.
2)      Berkurangnya semangat kaum muslimin dalam menghafal hadits dikarenakan perubahan watak dan kadar iman mereka melemah.
3)      Adanya serangan dari beberapa pihak yang sengaja merusak dan memalsukan hadits – hadits yang sebenarnya.
4)      Oleh karena Al-Qur’an sebagai dasar tasyri’ yang pertama telah dibukukan, maka haditspun yang berfungsi sebagai interpretasi Al – Qur’an, dirasa perlu dibukukan juga.
Adapun tujuan dan faedah pentadwinan hadits dilihat dari segi kepentingan agama, diantaranya adalah untuk memelihara syari’at islam itu sendiri. Hadist adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an, untuk memelihara kemurnian Al-Qur’an, maka hadits pun harus dijaga dan dipelihara.
Sedangkan dilihat dari segi kebutuhan umat, pengkodifikasian hadits berhubungan dengan pengamalan syariat islam. Umat islam sangat mebutuhkan pedoman yang mudah dan efisien (selain Al-Qur’an) untuk memandu mereka dalam beribadah kepad Allah SWT. dan dapat diperoleh kapan saja. Selain itu, pembukuan hadits dapat menghilangkan keraguan kaum muslimin dalam mengamalkan sunnah Rasulullah Saw dikarenakan banyak bermunculannya hadits – hadits palsu.

C.    Sistem Pengkodifikasian Hadits
1.Periodisasi Sejarah Perkembangan hadits
Para ulama penulis hadits berbeda – beda dalam membagi periode – periode sejarah  hadits. Ada yang membagi 3 periode, 5 periode, dan 7 periode.
Periodisasi sejarah hadits yang membaginya pada 7 periode adalah :
a)      Periode pertama, yaitu Masa  Rasulullah Saw, semenjak beliau diangkat menjadi Rasul sampai wafatnya, disebut :

(masa turun wahyu dan pembentukan masyarakat islam)
b)      Periode kedua, yaitu Masa Sahabat Besar, masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin (11 H – 40 H) disebut:

(zaman pematerian dan penyederhanaan / penyelidikan riwayat)
c)      Periode ketiga, yaitu Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in Besar, dari berakhirnya zaman Khulafa al-Rasyidin atau permulaan masa Dinasti Umayah sampai abad pertama, disebut :

(masa penyebaran riwayat ke kota – kota atau daerah – daerah)
d)      Periode keempat, yaitu Masa Pemerintahan Daulah Bani Umayah II sampai masa Daulah Abbasiyah I, dari permulaan abad II H sampai akhir abad II H, disebut:

(masa penulisan dan pentadwinan)
e)      Periode kelima, yaitu masa akhir pemerintahan Daulah Abbasiyah I sampai awal pemerintahan Daulah Abbasiyah II ( sejak Khalifah Ma’mun sampai Khalifah al-Muqtadir) dari awal abad II H sampai akhir abad II H, disebut:

(masa penyaringan, pemeliharaan, dan pelengkapan)
f)       Periode keenam, yaitu masa pemerintahan Abbasiyah II (sejak Khalifah al-Muqtadir sampai al-Mu’tashim) dari permulaan abad IV H sampai jatuhnya kota Baghdad tahun 656 H, disebut :

(masa pembersihan, penyusunan, penambahan, dan pengumpulan)
g)      Periode ketujuh, yaitu masa jatuhnya Daulah Abbasiyah tahun 656 H sampai sekarang, disebut:

(masa penyerahan, penghimpunan, pentakhrijan, dan pembahasan). [1]

Periodisasi sejarah perkembangan hadits yang membagi pada 5 periode adalah yang dirumuskan oleh Abd al-Aziz al-Khuli dalam Tarikh Funun al-Hadits sebagai berikut:
a)      .........................................., yakni memelihara Hadits dalam hafalan, berlangsung selama abad 1 Hijriyah.
b)      .........................................., yakni pentadwinan Hadits dengan masih tercampurnya Hadits dengan fatwa sahabat dan tabi’in, selama abad II Hijriyah.
c)      ..........................................., yakni Tadwin dengan memisahkanHadits dari fatwa sahabat dan tabi’in di awal abad III Hijriyah.
d)      ............................................, keshahihan seleksi Hadits.
e)      ............................................, yakni tadwin Hadits tahdzib dengan pensistimatisasian, penggabungan dan penyerahan, mulai abad IV Hijriyah. [2]
Adapun periodisasi yang membagi sejarah perkembangan Hadits pada tiga periode bertumpu pada aktivitas tadwin Hadits. Tadwin yang dimaksud adalah tadwin resmi yang dimulai pada tahun 101 Hijriyah sampai akhir abad III Hijriyah, periode sejarah perkembangan Hadits berdasarkan tadwin tersebut, diantaranya:
a)      Periode Qabla al-Tadwin, yakni sejak masa Nabi SAW sampai tahun 100 Hijriyah, masa sebelum Hadits ditadwin secara resmi.
b)      Periode ‘Inda al-Tadwin, yakni sejak tahun 101 Hijriyah sampai akhir abad III Hijriyah, selama aktivitas tadwin resmi.
c)      Periode Ba’da al-Tadwin, sejak abad IV Hijriyah sampai masa selanjutnya setelah Hadits terkoleksi dalam kitab atau Diwan Hadits.[3]
Adapun yang akan dibahas dalam makalah ini adalah periodisasi sejarah perkembangan Hadits yang dibagi kedalam tujuh periode, karena telah mencakup pembagian periodisasi sejarah perkembangan Hadits yang dibagi kedalam lima dan tiga periode.


2.      Perkembangan Hadits dari Masa ke Masa Berdasarkan Pembagiannya ke Dalam Tujuh Periode.
A.    Periode pertama: Perkembangan Hadits pada Masa Rasulullah.
Pada periode ini sejarah Hadits disebut “ Ashral-Wahyiwa al-Takwin” (masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat islami)[4].
Membicarakan hadits pada masa Rasul Saw berarti membicarakan hadits pada awal pertumbuhannya. Maka dalam uraiannya akan terkait langsung dengan pribadi Rasul sebagai sumber hadits.
Rasul membina umatnya selama 23 tahun. Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus diwurudkannya hadits. Keadaan ini sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai pewaris pertama ajaran islam.
Wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah dijelaskan oleh beliau melalui perkataan (aqwal), perbuatan (af’al), dan taqrir-nya. Sehingga apa yang didengar, dilihat dan disaksikan oleh para sahabat merupakan pedoman bagi amaliah dan ubudiah mereka. Dalam hal ini rasul merupakan contoh satu-satunya bagi para sahabat, karena beliau memiliki sifat kesempuranaan dan keutamaan selaku Rasul Allah SWT yang berbeda dengan manusia lainnya.
Untuk lebih memahami kondisi / keadaan hadits pada zaman Nabi SAW berikut ini akan diuraikan beberapa hal yang berkaitan:
1.      Cara Rasul Menyampaikan Hadits
Ada suatu keistimewaan pada masa ini yang membedakannya dengan masa lainnya, yaitu umat islam dapat secara langsung memperoleh hadits dari Rasulullah SAW sebagai sumber hadits. Dimana tempat-tempat yang digunakan sebagai tempat pertemuan diantaranya adalah masjid, rumah beliau sendiri, pasar ketika beliau dalam perjalanan (safar), dan ketika beliau mukim (berada dirumah).
Dalam riwayat Imam Bukhori, disebutkan Ibnu Mas’ud pernah bercerita bahwa Rasulullah Saw, menyampaikan haditsnya dengan berbagai cara, sehingga para sahabat selalu ingin mengikuti pengajiannya, dan tidak mengalami kejenuhan. Cara tersebut diantaranya adalah :
v Melalui para jama’ah yang berada di pusat pembinaan atau majelis al-ilmi.
v Dalam banyak kesempatan, Rasulullah Saw juga menyampaikan haditsnya melalui para sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikannya kepada orang lain.
v Melalui ceramah atau pidato ditempat terbuka, seperti ketika haji wada’ dan Futuh Makkah[5].
Untuk hal-hal tertentu, seperti yang berkaitan dengan soal keluarga dan kebutuhan biologis, beliau menyampaikan melalui istri-istrinya. Begitu pula para sahabat, jika mereka segan bertanya kepada Nabi, mereka sering kali bertanya kepada istri-istri beliau.

2.      Perbedaan Para Sahabat dalam Menguasai Hadits
Dalam perolehan dan penguasaan hadits, antara satu sahabat dengan sahabat yang lain tidaklah sama, ada yang memiliki banyak, ada yang sedang bahkan ada pula yang sedikit. Hal ini disebabkan karena:
a)      Perbedaan mereka dalam hal kesempatan bersama Rasulullah Saw.
b)      Perbedaan dalam soal hafalan dan kesungguhan bertanya kepada sahabat lain.
c)      Perbedaan dalam hal waktu masuk Islam dan jarak tempat tinggal dari Majelis Rasul Saw.
d)      Perbedaan dalam keterampilan menulis, untuk menulis hadits[6].
Para  sahabat yang banyak menerima hadits dari Rasulullah Saw antara lain:
1.      Para sahabat yang tergolong As-Sabiqun Al-Awwalun (yang mula-mula masuk islam), seperti Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Ibnu Mas’ud.
2.      Ummahat al-mukminin (istri-istri Rasulullah Saw), seperti Siti Aisyah dan Ummu Salamah.
3.      Para sahabat yang selalu dekat dengan Rasulullah Saw, dan juga menuliskan hadits-hadits yang diterimanya, seperti Abdullah bin Amr bin Al-As.
4.      Sahabat yang tidak lama bersama Rasulullah Saw, tetapi banyak bertanya kepada para sahabat lainnya dengan sungguh-sungguh seperti Abu Hurairah.
5.      Para sahabat yang secara sungguh-sungguh mengikuti majelis Rasulullah Saw seperti Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Abas[7].

3.      Menghafal dan menulis hadits
a)      Menghafal Hadits.
Untuk memelihara kemurnian al-Qur’an dan Hadits, Rasulullah mengambil kebijakan terhadap Al-Qur’an beliau memberi instruksi kepada sahabatnya untuk menulisnya selain menghafalkan. Sedangkan terhadap hadits, beliau menyuruh mereka menghafal dan melarangnya menulisnya secara resmi. Dalam hal ini, beliau bersabda:
لا تكتبوا عنى ومن كتب عنى غير القرآن فليمحه وحدثوا كذب عليّ متمعدا فليكتبوّأ مقعده من النار عنى ولا حرج ومن  كذب عليّ
Artinya:
“Janganlah kalian tulis apa saja dariku selain Al-Qur’an. Barangsiapa yang telah menulis dariku selain Al-Qur’an, hendaklah dihapus. Ceritakan saja apa yang diterima dariku, itu tidak mengapa. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.
(HR. Muslim dan Abu Said Al-Khuzri).
Dengan demikian, para sahabat bersungguh-sungguh untuk menghafal hadits agar tidak terjadi kekeliruaan dengan Al-Qur’an. Ada alasan yang cukup memberi motivasi kepada para Sahabat, dalam menghafal hadits diantaranya adalah:
1.      Kegiatan menghafal merupakan budaya Arab yang telah ada sejak zaman praIslam.
2.      Mereka terkenal kuat hafalan jika dibanding bangsa-bangsa lain.
3.      Rasulullah banyak memberi spirit melalui doa-doanya agar mereka diberikan kekuatan hafalan dan dapat mencapai derajat yang tinggi.
4.      Dan Rasul sering kali menjanjikan kebaikan akhirat bagi mereka yang menghafalkan hadits dan menyampaikan kepada orang lain[8].
Adapun faktor-faktor utama dan terpenting yang menyebabkan Rasulullah melarang penulisan dan pembukuan hadits adalah:
1.      Khawatir terjadi kekaburan antara ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Rasul bagi orang-orang yang baru masuk Islam.
2.      Menjaga agar tidak bercampur antara catatan Al-Qur’an dengan Hadits.
3.      Takut berpegangan atau cenderung menulis hadits tanpa diucapkan atau ditela’ah.
4.      Khawatir orang-orang awam berpedoman pada hadits saja[9].
b)     Menulis Hadits
Keadaan Hadits pada masa Nabi Muhammad Saw belum ditulis (dibukukan) secara resmi, walaupun ada beberapa sahabat yang menulisnya. Hal ini dikarenakan ada larangan penulisan hadits dari Nabi Muhammad Saw seperti pada sabda Nabi yang diriwayatkan oleh abu Sa’id Al-Khuzri di atas.
Tetapi disamping ada hadits yang melarang penulisan ada juga hadits yang membolehkan penulisan hadits, yaitu sabda Nabi Saw:
اكتب عنّى فو الذى نفس بيده ما خرج من فمن الاالحق.
Artinya:
” tulislah dari saya, demi Dzat yang diriku didalam kekuasaan-NYA, tidak keluar dari mulutku kecuali yang hak”(.Riwayat Abu Daud).
Para sahabat yang melakukan penulisan hadits pada masa nabi dan memiliki catatan-catatannya, ialah:
a.       Abdullah bin Amr bin Al-‘As;
b.      Jabir bin Abdillah bin Amr Al-Anshari (w.78 H);
c.       Abu Hurairah Ad-Dausi (w.59 H);
d.      Abu Syah(Umar bin Sa’ad Al-Anmari);
e.       Anas ibn Malik;
f.        Ali ibn Abi Thalib;
g.      Jabir bin Abdullah Al-Anshary (16H-73H);
h.      Humam bin Munabbih (40-130H) ;
i.        Abu Bakar ash-Shidiq

c)      Penyelesaian Hadits yang Nampak Bertentangan.
Hadits-hadits di atas nampak bertentangan. Yakni, di satu pihak, penulisan hadits dilarang dan di lain pihak, penulisan hadits diperintahkan. Berikut ini dikemukakan pendapat-pendapat ulama, dalam usaha menyelesaikan atau mengkompromikan kedua macam hadits di atas.
1.      Bahwa larangan menulis hadits itu terjadi pada awal-awal Islam untuk memelihara agar hadits tidak tercampur dengan Al-Qur’an. Tetapi setelah itu jumlah kaum muslimin semakin banyak dan telah banyak yang mengenal Al-Qur’an, maka hukum larangan menulisnya telah dinaskhkan dengan perintah yang membolehkannya.
2.      Bahwa larangan menulis hadits itu bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang memiliki keahlian tulis menulis. Hingga terjaga dari kekeliruan dalam menulisnya, dan tidak akan dikhawatirkan salah seperti Abdullah bin Amr bin Ash.
3.      Bahwa larangan menulis hadits ditujukan pada orang yang kuat hafalannya dari pada menulis, sedangkan perizinan menulisnya diberikan kepada orang yang tidak kuat hafalannya.
4.      Bahwa larangan itu, dimaksudkan yang berupa kodifikasi formal dalam bentuk seperti mushaf al-Quran, sedang bila sekedar berupa catatan-catatan untuk dipakai sendiri, tidak dilarang.
5.      Bahwa larangan itu, berlaku pada saat wahyu-wahyu yang turun, belum dihafal dan dicatat oleh para sahabat, sedangkan setelah wahyu-wahyu yang turun telah dihafal dan dicatat, menulis hadits diizinkan[10].

B.     Periode Kedua : Perkembangan Hadits pada Masa Khulafa Al-Rasyidin (11 H – 14 H )
Periode ini disebut “ Ashr al-Tatsabbut wa al-Iqlal min al-riwayah”, yakni masa pematerian dan penyedikitan riwayat.
Periode kedua sejarah perkembangan hadits, adalah masa sahabat, khususnya masa Khulafa Al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib) yang dimulai sejak wafatnya Rasul sampai berakhirnya pemerintahan Ali bin Abi Thalib.
a)      Sahabat dan Periwayatan Hadits
Ø  Menjaga Pesan Rasul Saw
Pada masa menjelang kerasulannya, Rasul Saw berpesan kepada para sahabat agar berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadits serta mengerjakannya kepada orang lain sebagai mana sabdanya :

تركت فيكم أمر يى لن تملّوا ما تمسّكم بهما كتاب الله وسنة نبيّه
Atinya:
”Telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam, yang tidak akan tersesat setelah berpegang kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnahku (Al Hadits).” (H.R Malik)
Pesan-pesan Rasul Saw sangat mendalam pengaruhnya kepada para sahabat, sehingga segala perhatian yang tercurah semata-mata untuk melaksanakan dan memelihara pesan-pesannya. Kecintaan mereka kepada Rasul Saw dibuktikan dengan melaksanakan segala yang dicontohkan.
Ø  Berhati-hati dalam Meriwayatkan dan Menerima Hadits.
Perhatian sahabat pada masa ini terutama sekali terfokus pada usaha memelihara dan menyebarkan Al-Qur’an, ini terlihat bagaimana Al-Qur’an dibukukan pada masa Abu Bakar atas saran Umar Ibn Khattab, usaha pembukuan ini diulang juga pada masa Usman Ibn Affan, sehingga melahirkan mushaf Usmani satu disimpan di Madinah yang dinamai Mushaf Al-Imam dan yang empat lagi maisng-masing disimpan di Makkah, Basrah, Syiria dan Kuffah.
Perlu pula dijelaskan disini, bahwa pada masa ini belum ada usaha resmi untuk menghimpun hadits dalam suatu kitab, seperti halnya Al-Qur’an. Hal ini (umat islam) dalam mempelajari Al-Qur’an. Sebab lain pula, bahwa para sahabat yang banyak menerima hadits dari Rasul Saw sudah tersebar diberbagai daerah kekuasaaan islam, dengan kesibukannya masing-masing sebagai pembina masyarakat. Sehingga dengan kondisi seperti ini, ada kesulitan mereka secara lengkap. Pertimbangan lainnya, bahwa soal membukukan hadits dikalangan para sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat, belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan kesahihannya.
Ø  Periwayatan Hadits dengan Lafadz dan Makna.
Pembatasan atau penyederhanaan periwayatan hadits, yang ditunjukkan oleh para sahabat dengan sifat kehati-hatiannya, tidak berarti hadits-hadits Rasul tidak diriwayatkan. Dalam batasan-batasan tertentu hadits-hadits itu diriwayatkan. Khususnya permasalahan ibadah dan muamalah. Periwayatan tersebut dilakukan setelah diteliti secara ketat pembawa hadits tersebut dan kebenaran isi matannya.
Ada dua jalan sahabat dalam meriwayatkan hadits dari Rasul Saw:
Pertama, periwayatan lafdzi (redaksinya persis seperti yang disampaikan Rasul). Kebanyakan para sahabat meriwayatkan hadits dengan jalan ini. Mereka berusaha agar periwayatan hadits sesuai dengan redaksi dari Rasul Saw, seperti sahabat Ibnu Umar.
Kedua, periwayatan maknawi (maknanya saja). Periwayatan maknawi artinya periwayatan hadits yang matannya tidak persis sama dengan yang didengarnya dari Rasul Saw akan tetapi isi atau maknanya tetap terjaga secara utuh, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasul Saw tanpa ada perubahan[11].
b)     Sikap dan kebijaksanaan khulafau’ur Rasyidin mengenai hadits-hadits Rasulullah 
1)      Khalifah abu Bakar dan Umar bin Khattab
Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab menyerukan kepada umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam meriwayatkan Hadits, serta meminta kepada para sahabat untuk menyelidiki riwayat.
Kebijaksanaan ini dimaksudkan:
Ø  Untuk memelihara Al-Qur’an
Ø  Agar umat Islam, perhatiannya hanya tercurah kepada pengkajian dan  penyebaran Al-Qur’an.
Ø  Agar masyarakat tidak bermudah-mudah dalam meriwayatkan Hadits.
Pada zaman Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Al-Qur’an masih berada pada tahap dihafal oleh para sahabat dan baru pada orientasi pertama untuk dimushafkan.
Akibat dari kebijaksanaan ini ialah:
Ø  Periwayatan hadits sedikit sekali (sangat terbatas)
Ø  Hadits dan ilmu hadits belum merupakan pelajaran yang bersifat khusus.
2)      Pada masa khalifah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib
Secara umum, kebijakan pemerintahan Utsman ibn Affan dan Ali bin Abi Thalib tentang periwayatan tidak berbeda dengan apa yang telah ditempuh oleh kedua khalifah sebelumnya. Namun, langkah yang diterapkan tidaklah setegas langkah khalifah Umar ibn al-Khattab. Dalam sebuah kesempatan, Utsman meminta para sahabat agar tidak meriwayatkan hadits yang tidak mereka dengar pada zaman Abu Bakar dan Umar. Namun pada dasarnya, periwayatan Hadits pada masa pemerintahan ini lebih banyak daripada pemerintahn sebelumnya. Sehingga masa ini disebut dengan masa keleluasaan periwayatan hadits. Hal ini disebabkan oleh karakteristik pribadi Utsman yang lebih lunak jika dibandingkan dengan Umar. Selain itu, wilayah kekuasaan Islam yang semakin luas juga menyulitkan pemerintah untuk mengontrol pembatasan riwayat secara maksimal.
Sedangkan pada masa Ali Bin Abi Thalib, situasi pemerintahan Islam telah berbeda dengan masa – masa sebelumnya. Masa itu merupakan masa krisis dan fitnah dalam masyarakat. Terjadinya peperangan antar beberapa kelompok kepentingan politik juga mewarnai pemerintahan Ali. Secara tidak langsung, hal itu membawa dampak negatif dalam periwayatan hadits. Kepentingan politik telah mendorong pihak – pihak tertentu melakukan pemalsuan hadits. Dengan demikian, tidak seluruh periwayat hadits dapat dipercaya riwayatnya
Jadi, Pada masa khulafau’ur Rasyidin juga belum ada usaha secara resmi untuk menghimpun hadits dalam suatu kitab halnya Al-Qur’an, hal ini disebabkan karena:
1.      Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari Al-Qur’an.
2.      Para sahabat yang banyak menerima hadits dari Rasul Saw sudah tersebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam.
3.      Soal membukukan hadits, dikalangan sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat. Belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan kesahihannya.


C.    Periode Ketiga: Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat Kecil Dan Tabiin (40 H – 100 H)
Periode ini disebut “Ashr Intisayar Al-Riwayah Ila Al-Amshar” yakni masa berkembang dan meluasnya hadits.
Pada dasarnya periwayatan yang dilakukan oleh kalangan Tabi’in tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh para sahabat sebagai para guru-guru mereka. Hanya saja persoalan yang dihadapi mereka agak berbeda dengan yang dihadapi para sahabat. Pada masa ini Al-Qur’an sudah dikumpulkan dalam satu mushaf. Dipihak lain, usaha yang telah dirintis oleh para sahabat, pada masa Khulafa’ Al-Rasyidin kebeberapa wilayah kekuasaan Islam, kepada merekalah para tabi’in mempelajari hadits.
Ketika pemerintahan dipegang Bani Umayyah, wilayah kekuasaan islam sudah meliputi Makkah, Madinah, Bashrah, Khurasan, Mesir, Persia, Irak, Afrika Selatan, Samarkand, dan Spanyol. Sejalan dengan pesatnya perluasaan kekuasaan Islam tersebut, penyebaran sahabat ke daerah-daerah juga meningkat. Oleh sebab itu, masa itu dikenal masa penyebaran periwayatan hadits.
Hadits-hadits yang diterima para tabi’in ini, seperti telah disebutkan ada yang dalam bentuk catatan-catatan atau tulisan-tulisan dan ada yang harus dihafal, disamping dalam bentuk yang sudah terpolakan dalam ibadah dan amaliah para sahabat yang mereka saksikan dan mereka ikuti. Kedua ini saling melengkapi, sehingga tidak ada satu hadits pun yang tercecer atau terlupakan.
Pada masa tabi’in ini muncul atau terjadi sejak masa sahabat, setelah terjadinya perang Jamal dan perang Siffin yaitu tatkala kekuasaan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi akibatnya cukup panjang dan berlarut-larut dengan terpecahnya umat Islam ke dalam beberapa kelompok, yaitu Khawarij, Syiah, Muawiyah dan golongan minoritas yang tidak termasuk dalam ketiga kelompok tersebut.
Dari persoalan politik diatas langsung atau tidak langsung cukup memberikan pengaruh, baik positif maupun negatif terhadap perkembangan hadits berikutnya. Pengaruh yang langsung dan bersifat negatif mendukung kepentingan politik masing-masing kelompok menjatuhkan posisi lawan-lawannya. Adapun pengaruh yang berakibat positif adalah hadits sebagai upaya penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan.
Karena meningkatnya periwayatan hadits, maka muncullah; bendaharawan-bendaharawan hadits, dan muncul pula lembaga-lembaga (centrum perkembangan) hadits di berbagai daerah seluruh negeri.
Diantara bendaharawan hadits, yakni menerima hadits, menghafal dan mengembangkan atau meriwayatkan hadits, adalah:
1)      Abu Hurairah, menurut inb al-jauzi, beliau meriwayatkan 5374, menurut al-kirmany 5364;
2)      ‘Abdullah ibn Umar, meriwayatkan 2630;
3)      Anas ibn Malik, meriwayatkan 2276;
4)      ‘Aisyah, istri Rasul Saw, meriwayatkan 2210;
5)      ‘Abdullah ibn Abbas, meriwatkan 1660;
6)      Jabir ibn Abdullah, meriwatkan 1540;
7)      Abu Sa’id al-Khudri, meriwatkan 1540;
8)      Abdullah ibn Mas’ud;
9)      Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash.
Adapun lembaga-lembaga hadits, yakni yang mnjadi pusat bagi usaha pengalian, pendidikan dan pengembangan hadits terdapat di:
1)      Madinah;
2)      Makkah;
3)      Kuffah;
4)      Basrah;
5)      Syam;
6)      Mesir.
D.    Periode Keempat dan Kelima: Perkembangan Hadits pada Abad Kedua Hijriyah dan Ketiga Hijriyah (100-200 H dan 200 H–300 H)
Periode ini disebut “Ashar Al-Kitabah Al-Tadwin”. Artinya: Masa Penulisan dan Pendewanan/Pembukuan Hadits. Maksudnya penulisan dan pembukuan hadits secar resmi, yakni diselenggarakan atas inisiatif pemerintah secara umum yaitu pada masa pemerintahan khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz tahun 101 H.
Dorongan Bagi Usaha Pentadwinan Hadits
Hal-hal yang mendorong timbulnya usaha pentadwinan hadits secara resmi adalah sebagai berikut:
a.       pada akhir abad I H. Para penghafal hadits semakin berkurang karena sudah banyak yang meninggal dunia. Apalagi karena banyaknya peperangan, maka berkurangnya para sahabat dan tabi’in penghafal hadits terasa cepat selaki, karena gugur di medan perang.
b.      Periwayatan secara lisan dengan berperang pada hafalan dan ingatan dalam keseragaman lafadz dan makna tidak bisa berlangsung sangat lama, sebabnya:
1)      faktor intern, kondisi kaum mulimin sendiri dalam menhafal riwayat dan memelihara hafalan tersebut makin lama berurang, dikarenakan antara lain:
Ö        semangat menghafal karena pengaruh karena pengaruh kadar iman yang berbeda pada dada kaum mulimin melemah.
Ö        Perubahan watak, pengaruh pencampuran ras dan berubanya keadaan masyarakat dan kehidupan.
2)      Faktor ekstern: pengaruh yang datang dari luar antara lain:
Ö        Makin banyaknya problema hidup dari masa ke masa dalam berbagai sektor kehidupan; sosial, ekonomi dan politik.
Ö        Tidak henti-hentinya terdapat serangan dari kaum yang yang sengaja merusak hadits dengan jalan mengburkan hadits-hadits yang sebenarnya.

c.       Pada akhir abad I H pemalsuan hadits yang semakin memuncak.
d.      Pada masa tabi’in tidak dikhawatirkan lagi tercampurnya antara al-Qur’an dan hadits, sehingga tidak menimbulkan kesamaran tentang al-Qur’an sebagai daar tasyri’ yang pertama telah dibukukan, maka haditspun yang berfungsi sebagai interpretasi al-Qur’an, secara otomatis harus di bukukan pula.
e.       Perkemabangan ilmu pengetahuan semakin maju karena semakin luasnya scope pengenalan umat dan pertemuan peradaban antara orang Islam dengan anak-anak negeri yang kemudian menjadi wilayah Islam, begitu pula pengaruh literatur ang datang dari luar, maka merangsang dan mendorong ke arah pentadwinan hadits, sebab hadits adalah salah satu umber ilmu pengetahan.
f.        Pada umat Islam sudah tersedia potensi atau sarana untuk keperluan penulisan, pengummpulan dan pembukuan hadits yakni kepandaian tulis baca yang semakin meluas di kalangan bangsa Arab dan semakin bersemangatnya memelihara dan membina sunah Nabi, baik dalam mencari, memahami, menghafal, mangamalkan, dan menyebarkan. Dengan demikian untuk aktivitas pentadwinan hadits, umat Islam siap lahir dan batinnya.
Dalam sejarah perkembangan hadits pada abad III H, termasuk periode kelima yang disebut “’Ashr al-Tajrid al-Tashhih wa al-Tanqh”, yaitu masa penyaringan, pemilahan dan pelengkapan hadits.pembahasan mengenai aktivitas tadwin, titinjau dari corak penyusunannya dan sistem yang dipergunakan, maka sepanjang yang telah ditempuh para ulama muhaditsin aktivitas tadwin tersebut di bagi pada tiga fase perkembangan, yakni:
1.      fase tadwin masa pertama, pada fase ini para mudawwin mengadakan tadwin dengan memasukkan ke dalam diwannya semua hadits, baik sabda Nabi maupun fatwa sahabat dan tabi’in. jadi meliputi hadits Marfu’, maukuf dan maqthu’. Corak tadwin ini berlangsung selama abad II H, kitab-kitab yang disusun pada masa ini tidak sampai pada masa kita sekarang kecuali kitab al-Muwaththa’ susunan Malik ibn Annas.
Kitab ini merupakan kitab terbesar pada ma situ yang disusun dengan system tashnif, yakni dengan meletakkan hadits yang ada hubungannya dengan yang lain dalam satu bab, kemudian dikumpulkan bab-bab itu dalam mushannaf.
2.      fase tadwin dengan kualifikasi. Pada awal abad III H. para ulama melaksanakan tadwin hadits dengan memisahkan antara sabda Nabi dengan fatwa sahabat dan tabi’in (kualifikasi). Tapi masih mencampur saja antara hadits-hadits shahih, hasan dan dha’if.
System penyusuna yang dipakai adalah tasnid, yakni menyusun hadits dalam kitab-kitab berdasarkan nama para sahabat perawi.
3.      fase tadwin dengan seleksi. Pentadwinan hadits corak ini berlangsung mengikuti corak kualifikasi antara hadits marfu’ dengan hadits maukuf dan maqthu’. Seleksi hadits dilakukan terhadap nilai hadits, yakni mmilih hadits yang shahih saja untuk dibukukan.hal yang mendorong usaha tadwin dengan seleksi ini adalah karena meluasnya pemalsuan hadits di akhir abad II H dan awal abad III H.
Para pentadwin pada masa ini ialah
Ö        muhammad ibn ishak dan ibn abi zi’bin di madinah;
Ö        ibn juraij di mekkah;
Ö        al-rabi ibn sabih  dan hammad ibn salamah di basrah;
Ö        sufyan al-tsauri di kuffah
Ö        al-auza’i di syam;
Ö        ma’mar ibn rasyid di yaman;
Ö        ibn al-mubarrak di kurasan;
Ö        abdullah ibn di mesir dan
Ö        jarir ibn abd al-hamid di rei


Di antara kitab-kitab yang muncul pada masa ini adalah[12]:
1.      Al Muwaththa oleh Malik bin Anas
2.      Al Musnad oleh As Syafi’i (tahun 150 - 204 H / 767 - 820 M)
3.      Mukhtaliful Hadits oleh As Syafi’i
4.      Al Jami’ oleh Abdurrazzaq Ash Shan’ani
5.      Mushannaf Syu’bah oleh Syu’bah bin Hajjaj (tahun 82 - 160 H/70 –776M)
6.      Mushannaf Sufyan oleh Sufyan bin Uyainah (tahun 107-190 H/725-814M)
7.      Mushannaf Al Laist oleh Al Laist bin Sa’ad (tahun 94 - 175 / 713 - 792 M)
8.      As Sunan Al Auza’i oleh Al Auza’i (tahun 88 - 157 / 707 - 773 M)
9.      As Sunan Al Humaidi (wafat tahun 219 H / 834 M)
Masa seleksi atau penyaringan hadits terjadi ketika pemerintahan dipegang oleh dinasti bani Abbas khususnya sejak masa al-Ma’mun sampai dengan al-Mumuktadir sekitar tahun 201-300 H.
Munculnya seleksi ini karena pada periode sebelumnya yakni periode tadwin, sebelum berhasil memisahkan beberapa hadits maukuf dan maqtu dari hadits marfu’. Begitu pula sebelum bisa memisahkan beberapa hadits yang do’if dari yang shahih. Bahkan masih ada hadits yang maudu’ tercampur pada yang shahih
Berkat keuletan dan keseriusn para ulama pada masa itu, maka bermunculan kitab-kitab hadits yang hanya memuat hadits-hadits shahih. Kitab-kitab tersebut pada perkembangannya kemudian dikenal dengan kutub As-Sittah (kitab induk  yang enam).[13]
Sedangkan abad 5 H dan seterusnya adalah masa memperbaiki susunan kitab Hadits seperti menghimpun yang terserakan atau menghimpun untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab-kitab Hadits abad 4 H.

E.     Periode Keenam Dan Ketujuh: Perkembangan Hadits Pada Masa Mutaakhirin (300 H - …)
Periode keenam disebut “ashr al-tahzhib wa al-tartib al-istidrak wa al-jami’i”, yakni masa pembersihan, penyusunan, penambahan dan pengumpulan berlangsung sejak abad IV sampai 656 H. sedangkan periode ketujuh berlangsung mulai tahun 656 H, saat berakhirnya daulah bani abbas (Abbasiyah) sampai masa-masa seterusnya. Masa ini disebut “Ashr al-Syarh wa al-Takhrij wa al-Bahts”, yakni masa penyerahan, pengumpulan, pentakhrijan dan pembahasan.
Ulama yang hidup pada mulai abad IV H disebut ulama Mutaakhirin, sedangkan ulama yang hidup sebelumnya disebut ulama Mutaqaddimin.
Aktivitas tadwin hadits pada abad VI H dan selanjutnya disebut tadwin ba’da tadwin. Dari keseluruhan aktivitas tersebut dapat diklasifikasikan dan disimpulkan sebagai berikut.
                                i.      Tadwin hadits dengan perluasan dan penyempurnaan system dan corak:
1)      tadwin hadits dengan mengumpulkan hadits-hadits shahih yang tidak terdapat dalam kitab-kitab shahih.
2)      Tadwin hadits dengan mengumpulkan hadits-hadits yang memiliki syarat-syarat salah satunya yang kebetulan tidak dishahihkan oleh beliau. Kitabnya disebut mustadrak.
3)      Tadwin istikhraj, yakni dengn mengumpulkan hadits-hadits yang diambil dari suatu kitab. Kitabnya disebut mustahraj
4)      tadwin athraf, yaitu tadwi hadits dengan menyebut sebagian hadits dan dikumpulkan semua sanadnya.
5)      Tadwin dengan usaha mengumpulkan hadits-hadits yang didapat dari suatu kitab, kemudian dikumpukan dalam ssatu kitab.
6)      Tadwin dengan menambah hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya menjadi sebuah kitab tertentu. Kitab ini disebut kitab Zawaid.
7)      Tadwin hadits dengan menggabungkan hadits-hadits ayng terhimpun pada kitab-kitab lain.
8)      Tadwin dengan komentar. Kitabnya disebut kitab syarah.
9)      Tadwin dengan meringkas isi kitab-kitab hadits tertentu. Kitab ini disebut kitab mukhtasar.
                              ii.      Penyusunan kitab-kitab hadits secara spesialisasi.
1)      Tadwin hadits Hukuk,
2)      Tadwin hadits Targhib,
3)      Tadwin hadits Qudsi.
Abad 3 H merupakan masa pendewanan (pembukuan) dan penyusunan Hadits. Guna menghindari salah pengertian bagi umat Islam dalam memahami Hadits sebagai prilaku Nabi Muhammad, maka para ulama mulai mengelompokkan Hadits dan memisahkan kumpulan Hadits yang termasuk marfu’ (yang berisi perilaku Nabi Muhammad), mana yang mauquf (berisi prilaku sahabat) dan mana yang maqthu’ (berisi prilaku tabi’in). Usaha pembukuan Hadits pada masa ini selain telah dikelompokkan (sebagaimana dimaksud diatas) juga dilakukan penelitian Sanad dan Rawi-rawi pembawa beritanya sebagai wujud tash-hih (koreksi/verifikasi) atas Hadits yang ada maupun yang dihafal.
Di antara kitab-kitab yang muncul pada abad 3 H ini adalah[14]:
1.      Al Jami’ush Shahih Bukhari oleh Bukhari (194-256 H / 810-870 M)
2.      Al Jami’ush Shahih Muslim oleh Muslim (204-261 H / 820-875 M)
3.      As Sunan Ibnu Majah oleh Ibnu Majah (207-273 H / 824-887 M)
4.      As Sunan Abu Dawud oleh Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)
5.      As Sunan At Tirmidzi oleh At Tirmidzi (209-279 H / 825-892 M)
6.      As Sunan Nasai oleh An Nasai (225-303 H / 839-915 M)
7.      As Sunan Darimi oleh Darimi (181-255 H / 797-869 M)
Selanjutnya pada abad 4 H, usaha pembukuan Hadits terus dilanjutkan hingga dinyatakannya bahwa pada masa ini telah selesai melakukan pembukuan Hadits.
Di antara kitab-kitab yang muncul pada abad 4 H ini adalah[15]:
1.Al Mu’jamul Kabir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
2.Al Mu’jamul Ausath oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
3.Al Mu’jamush Shaghir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
4.Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M)
5.Ash Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (233-311 H / 838-924 M)
6.At Taqasim wal Anwa’ oleh Abu Awwanah (wafat 316 H / 928 M)
7.As Shahih oleh Abu Hatim bin Hibban (wafat 354 H/ 965 M)
8.Al Muntaqa oleh Ibnu Sakan (wafat 353 H / 964 M)
9.As Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)
10.  Al Mushannaf oleh Ath Thahawi (239-321 H / 853-933 M)
11.  Al Musnad oleh Ibnu Nashar Ar Razi (wafat 301 H / 913 M)
Kitab-kitab yang muncul pada abad 5 H ini adalah[16]:
v  Hasil penghimpunan
·               Bersumber dari kutubus sittah saja
1.      Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsir Al Jazari (556-630 H / 1160-1233M)
2.      Tashiful Wushul oleh Al Fairuz Zabadi (? - ? H / ? - 1084 M)
·   Bersumber dari kkutubus sittah dan kitab lainnya, yaitu Jami’ul Masanid oleh Ibnu Katsir (706-774 H / 1302-1373 M)
·   Bersumber dari selain kutubus sittah, yaitu Jami’ush Shaghir oleh As Sayuthi (849-911 H / 1445-1505 M)
v  Hasil pembidangan (mengelompokkan ke dalam bidang-bidang)
·   Kitab Al Hadits Hukum, diantaranya :
1.      Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)
2.      As Sunannul Kubra oleh Al Baihaqi (384-458 H / 994-1066 M)
3.      Al Imam oleh Ibnul Daqiqil ‘Id (625-702 H / 1228-1302 M)
4.      Muntaqal Akhbar oleh Majduddin Al Hirani (? - 652 H/ ? - 1254M)
5.      Bulughul Maram oleh Ibnu Hajar Al Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M)
6.      ‘Umdatul Ahkam oleh ‘Abdul Ghani Al Maqdisi (541-600 H / 1146-1203 M)
7.      Al Muharrar oleh Ibnu Qadamah Al Maqdisi (675-744 H / 1276-1343 M
·   Kitab Al Hadits Akhlaq
1.      At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258M)
2.      Riyadhus Shalihin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)
v  Syarah (semacam tafsir untuk Al Hadits)
1.Untuk Shahih Bukhari terdapat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M)
2.Untuk Shahih Muslim terdapat Minhajul Muhadditsin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)
3.Untuk Shahih Muslim terdapat Al Mu’allim oleh Al Maziri (wafat 536 H / 1142 M)
4.Untuk Muntaqal Akhbar terdapat Nailul Authar oleh As Syaukani (wafat 1250 H / 1834 M)
5.Untuk Bulughul Maram terdapat Subulussalam oleh Ash Shan’ani (wafat 1099 H / 1687 M)
v  Mukhtashar (ringkasan)
1.Untuk Shahih Bukhari diantaranya Tajridush Shahih oleh Al Husain bin Mubarrak (546-631 H / 1152-1233 M)
2.Untuk Shahih Muslim diantaranya Mukhtashar oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258 M)
v  Lain-lain
1.Kitab Al Kalimuth Thayyib oleh Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1263-1328 M) berisi hadits-hadits tentang doa.
2.Kitab Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M) berisi Al Hadits yang dipandang shahih menurut syarat Bukhari atau Muslim dan menurut dirinya sendiri.
Perkembangan penulisan dan pengkodifikasian hadits pada abad 12 H. mulai abad terakhir ini sampai sekarang dapat dikatakan tidak ada kegiatan yang berarti dari para ulama’ dalam bidang hadits, kecuali hanya membaca, memahami, dan memberikan syarah hadits-hadits yang telah terhimpun sebelumnya.



BAB III
SIMPULAN


Ö        Periode Pertama : Hadits pada masa Rasulluah SAW
a)      Cara Rasul Menyampaikan Hadits
v Melalui para jama’ah yang berada di pusat pembinaan atau majelis al-ilmi.
v Dalam banyak kesempatan, Rasulullah SAW juga menyampaikan haditsnya melalui para sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikannya kepada orang lain.
v Melalui ceramah atau pidato ditempat terbuka, seperti ketika haji wada’ dan Futuh Makkah.
b)      Perbedaan Para Sahabat dalam Menguasai Hadits
v  Perbedaan mereka dalam hal kesempatan bersama Rasulullah SAW.
v  Perbedaan dalam soal hafalan dan kesungguhan bertanya kepada sahabat lain.
v  Perbedaan dalam hal waktu masuk Islam dan jarak tempat tinggal dari Majelis Rasul SAW.
v  Perbedaan dalam keterampilan menulis dalam menulis hadits.
c)      Menghafal dan menulis hadits
Untuk memelihara kemurnian al-Qur’an dan Hadits, Rasulullah mengambil kebijakan terhadap Al-Qur’an beliau memberi instruksi kepada sahabatnya untuk menulisnya selain menghafalkan. Sedangkan terhadap hadits, beliau menyuruh mereka menghafal dan melarangnya menulisnya secara resmi.
Dibalik larangan Rasul SAW seperti pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khuzri, ternyata ditemukan sejumlah sahabat yang memiliki catatan-catatan dan melakukan penulisan terhadap hadits karena disamping ada hadits yang melarang penulisan hadits ada juga hadits yang membolehkan penulisan hadits.

Ö        Periode Kedua : Hadits pada Masa Khulafa al-Rasyidin (11 H-40 H)
Kehati-hatian para sahabat dalam hal pembukuan hadits dan pada masa itu belum ada pembukuan secara resmi, dikarenakan beberapa hal yang diantaranya adalah :
1.      Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari Al-Qur’an.
2.      Para sahabat yang banyak menerima hadits dari Rasul SAW sudah tersebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam.
3.      Soal membukukan hadits, dikalangan sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat. Belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan kesahihannya.

Ö        Periode Ketiga : Hadits pada Masa Shabat Kecil dan Tabi’in (40 H-100 H)
Pada masa ini juga terjadi kegiatan menghafal dan menulis hadits, dan ada beberapa hal yang begitu berpengaruh dalam hal perkembangan hadits, diantara pengaruh positif yang ada adalah hadits sebagai upaya penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan.

Ö        Periode Keempat dan Kelima : Perkembangan Hadits Pada Abad Kedua dan Ketiga Hijriyah (100 H-200 H dan 200 H-300 H)
Periode ini disebut “Ashar Al-Kitabah Al-Tadwin” artinya: Masa Penulisan dan Pendewanan/Pembukuan Hadit.
Periode ini, dimulai pada masa pemerintahan Muawiyah angkatan kedua (mulai khalifah Umar bin Abdul azis) sampai akhir abad II Hijriah (menjelang akhir masa dinasti Abbasyiah angkatan pertama). Abad 3 H merupakan masa kejayaan pendewanan (pembukuan) dan penyusunan Hadits.
Ö        Periode Keenam dan Ketujuh : Perkembangan Hadits pada Masa Mutaakhirin (300 H - … )
Pada masa ini adalah masa memperbaiki susunan kitab Hadits seperti menghimpun yang terserakan atau menghimpun untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab-kitab Hadits abad 4 H yaitu pada abad pengkodifikasian hadits.

DAFTAR PUSTAKA
Hasyim, A. 2004. Belajar Efektif Qur-an Madrasah Aliyah. Jakarta : Intermedia.
Abdul Hakim, Atang dan Jaih Mubarak. 2004. Metodologi Studi Islam. Bandung: Remaja Roda Karya.
Al-Qathathan, Manna.2004. Pengantar Studi Ilmu Hadits. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.
Khon, Majid, dkk.2005. Ulumul Hadits. Jakarta: Pusat Studi Wanita UIN.
Mudasir.1999. Ilmu Hadits. Bandung: Pustaka Setia.
Rumtianing. Irma, Khusniatin Rofiah .2002. Pokok-Pokok Ilmu Hadits . Ponorogo: STAIN Ponorogo press. 2005
Soetari, Endang.2008. Ilmu Hadits Kajian Riwayat dan Dirayah. Bandung: Mimbar Pustaka.
Suparta, Munzier. 2006. Ilmu Hadits. Jakarta: Raja Grafindo persada.
Syuhudi, M. Ismail.1987. Pengantar Ilmu Hadits. Bandung: Angkasa.
http://arichaniago.wordpress.com/2010/02/21/sejarah-hadis-masakodifikasi/
http://noexs.blogspot.com/2009/11/sejarah-perkembangan-hadits-masa-pra.html
http://pemikiran islam.wordpress.com


[1] Endang Soetari Ad, Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah. hlm. 30-32
[2] Ibid. hal 32
[3] Ibid. hal 32-33
[4] Endang Soetari Ad, Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah. hlm. 33
[5] Munzier suparta dan Ujang ranuwijaya, Ilmu Hadits., Jakarta: Raja Grafindo Persada,1996, hlm.58-60
[6] Ibid., hlm. 60-61
[7] H. Mudasir, Ilmu Hadits., Bandung: Pustaka Setia, 1999, hlm. 90
[9] http://abinafiah.blogspot.com/

. [10] M.Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadits., Bandung: Angkasa,1987, hlm 79-80
[12] http://belajar.tiganetwork.com
[13] Subhi as-shalih
[14] Ibid.
[15] ibid
[16] ibid

1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus