Translate

Rabu, 28 Desember 2011

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI TUMBUHAN (Batang I, Batang II, dan Batang III)


Oleh : Nurlaela Pujianti

Tanggal Praktikum      : 15 April 2011

Batang 1 (Monokotil dan Dikotil), Batang 2, Batang 3 (anomali)

I.       Tujuan Praktikum                     
1.      Mempelajari struktur batang monokotil melalui pengamatan pada preparat melintang batang Zea mays
2.      Mengamati struktur batang Cucurbita dan mempelajari tipe ikatan pembuluh bikolateral pada batang Cucurbita
3.      Mengamati pola pertumbuhan sekunder anomali yang terjadi pada tumbuhan Amaranthus

II.    Rumusan Pertanyaan Penelitian dan Hipotesis
Rumusan Pertanyaan
Adakah perbedaan anatomi batang  pada monokotil dan dikotil?
Hipotesis
Pada  anatomi batang dikotil dan monokotil terdapat perbedaan

III.  Teori Dasar
BATANG I (MONOKOTIL DAN DIKOTIL)
Perbandingan batang dikotil dan monokotil dengan keberadaan berkas pembuluh. Berkas pembuluh monokotil tersebar diseluruh jaringan penyokong sehingga tidak ada perbedaan antara korteks dan empulur. Sedangkan berkas pembuluh dikotil tersusun dalam lingkaran yang membagi jaringan dasar menjadi daerah-daerah yang berbeda.
Batang jagung merupakan salah satu contoh yang representatif untuk menggambarkan struktur batang monokotil. Bagian luar batang jagung ditutupi oleh epidermis yang memiliki stomata. Di bawah epidermis terdapat seludang sklerenkim yang berfungsi untuk mengokohkan batang. Ikatan pembuluh letaknya tersebar dan tidak teratur. Pada bagian tepi batang, korteks dan silinder pusat (stele) tidak dapat dibedakan. Ikatan pembuluh bertipe kolateral. Floem terdiri dari pembuluh tapis dan sel pengantar, sedangkan xilem terdiri dari trakhea, traheih, dan parenkim xilem. Di dalam jaringan xilem terdapat rongga reksigen. Setiap ikatan pembuluh dikelilingi oleh seludang sklerenkim. Jaringan dasar merupakan bagian terbesar yang mengisi batang.
Batang monokotil biasanya tidak mengalami pertumbuhan sekunder, penebalan batang biasanya dilakukan oleh meristem penebalan primer. Pada beberapa monokotil, petumbuhan sekunder dapat terjadi, seperti pada Dracaena dan Cordyline. Pertumbuhan ini terjadi sebagai aktifitas meristem pada bagian batang yang letaknya jauh di belakang meristem apeks. Meristem ini disebut sebagai kambium pembuluh, tetapi sifatnya sangat berbeda dengan pembuluh pada dikotil.kambium ini menghasilkan ikatan pembuluh sekunder yang terpisah satu sama lain oleh jaringan parenkim. Ikantan pembuluh yang dibentuk biasanya bertipe amfiversal.letak ikatan pembuluh sekunder lebih teratur dibandingkan ikatan pembuluh primer.
Pertumbuhan sekunder terjadi pada tumbuhan dikotil sebagai aktifitas kambium fasikuler dan kambium intrafasikuler. Aktifitas kambium ini pada umumnya bersifat bidereksional, ke arah luar menghasilkan floem sekunder dan ke arah dalam menghailkan xilem sekunder. Di dalam floem maupun xilem sekunder terdapat berkas-berkas parenkim ke arah radial. Parenkim ini disebut parenkim jari-jari empulur.
Pada beberapa tumbuhan, reaksi jaringan sebelumnya terdapat pembentukan jaringan sekunder yang menyebabkan pertambahan diameter batang tampak jelas. Pada Tilia reaksi terhadap pertumbuhan sekunder terjadi di daerah floem. Pada daerah ini parenkim jari-jari empulur trampak melebar. Pelebaran jari-jari empulur seperti ini disebut dilatasi jari-jari empulur.
BATANG II
Secara anatomi, jaringan pada batang dapat dibagi menjadi jaringan dermal, jaringan dasar, dan jaringan pembuluh. Epidermis biasanya terdiri dari satu lapisan sel dan sering kali memiliki stomata dan trikoma. Sel-sel epidermis ini mampu melebar ke arah tangensial dan mampu bermitosis. Sifat epidermis seperti ini amat penting untuk merespon apabila terjadi tekanan sebagai akibat pertumbuhan sekunder, stomata dapat hilang dan digantikan oleh lentisel. Lentisel merupakan pori yang menghubungkan ruang antar sel dalam tumbuhan dengan dunia luar setelah epidermis digantikan oleh periderm. Biasanya lentisel dibentuk di bawah stomata. Felogen pada daerah lentisel membentuk jaringan pengisi, yaitu jaringan dimana sel-sel tidak berlekatan satu sama lain. Kadang-kadang terdapat jaringan penutup pada jaringan pengisi tersebut.
Di epidermis terdapat daerah korteks. Korteks batang biasanya mengandung jaringan parenkim. Sel-sel parenkim ini biasanya mengandung banyak kloroplas. Pada korteks juga dapat ditemukan adanya jaringan kolenkim dan sklerenkim. Kedua jaringan ini biasanya terdapat di bagian luar korteks. Disebelah bawah korteks terdapat jaringan pembuluh. Batas antara korteks dan daerah jaringan pembuluh kurang jelas, karena batang tidak memiliki endodermis sebagaimana pada akar. Pada beberapa tumbuhan, sel-sel parenkim korteks bagian dalam dapat mengandung pati. Sel-sel ini biasanya disebut sebagai seludang pati.
Jaringan pembuluh berkembang dari prokambium yang dapat berpisah satu sama lain atau membentuk silinder prokambium. Jaringan prokambium ini berdiferensiasi membentuk floem dan xilem primer, sehingga terbentuklah berkas-berkas ikatan pembuluh atau silinder pembuluh. Xilem terbentuk secara exarch dan floem secara endarch. Pada tumbuhan dikotil dan coniferae, jaringan pembuluhh biasanya berbentuk silinder berongga yang dibatasi oleh korteks di sebelah luar dan empulur di sebelah dalam. Jaringan pembuluh ini dapar dibagi menjadi bagian-bagian yang masing-masing disebut berkas ikatan pembuluh (vascular). Dalam setiap berkas ikatan pembuluh terdapat berkass floem dan berkas xilem.
Berdasarkan susunan berkas floem dan berkas xilem dalam ikatan pembuluh, berkas ikatan pembuluh pada batang dapat dibedakan menjadi:
1)      Ikatan pembuluh kolateral, apabila floem terdapat di sebelah luar xilem. Tipe ikatan pembuluh seperti ini paling sering ditemukan.
2)      Ikatan pembuluh bikolateral, apabila floem terdapat di sebelah dalam (floem internal) maupun di sebelah luar (floem eksternal) xilem. Ditemukan pada famili Silanaccae dan Cucurbitaccae.
3)      Ikatan pembuluh konsentris, apabila salah satu berkas pembuluh mengelilingi berkas pembuluh yang lainnya. Dapa dibedakan menjadi ikatan pembuluh amfikribal apabila floem mengelilingi xilem dan ikatan pembuluh amfivasal apabila silem mengelilingi floem. Ditemukan pada paku dan beberapa monokotil, seperti dari famili Lilianaceae.
4)      Ikatan pembuluh pada akar tidak mengikuti tipe diatas, tetapi membentuk ikatan pembuluh seperti ini disebut sebagai ikatan pembuluh radial.
Oleh karena pada batang terdapat daun, maka berkas pembuluh pada batang bersimnambungan pada batang dengan berkas ikatan pembuluh pada daun. Hubungan ini dapat dilihat pada daerah buku, tempat daun tersebut melekat.
BATANG III (ANOMALI)
Pertumbuhan sekunder batang tidak mengikuti pola yang umum. Penyimpangan pertumbuhan sekunder ini disebabkan karena perubahan aktifitas kambium. Bentuk perubahan aktifitas kambium ini cukup bervariasi. Pada Leptadenia dan Nyctaginaceae suatu seri kambium pembuluh dibentuk secara berurutan keluar. Setiap kambium yang terbentuk, berkembang membentuk floem ke arah luar dan xilem ke arah dalam. Floem dan xilem yang dihasilkan membentuk membentuk ikatan-ikatan pembuluh yang tertanam dalam jaringan parenkim. Jaringan parenkim ini kadang-kadang disebut juga sebagai jaringan penghubung (conjunctive tissue) dan dibentuk oleh aktifitas kambium yang berada di antara ikatan pembuluh. Kambium ini dapat disebut sebagai kambium intrafasikuler, tetapi keberadaannya terbatas.
Pada beberapa spesies Bignoniacceae dan Passifloraceae, pertumbuhan sekunder pada awalnya berjalan normal. Setelah lingkaran kambium terbentuk secara normal, beberapa bagian (daerah) silinder kambium tersebut mengalami perubahan aktifitas dari bidireksional menjadi unidireksional. Dengan demikian, dalam silinder kambium tersebut ditemukan bagian kambium yang membentuk floem ke arah luar dan xilem ke arah dalam (bidireksional), dan bagian kambium yang hanya membentuk floem ke arah luar (unidireksional). Sejalan dengan pertambahan diameter batang, bagian kambium yang aktifitasnya unidireksional bertambah jumlahnya. Karena perubaham aktifitas kambium yang seperti ini, maka pada penampang melintang akan terlihat adanya bagian floem yang menjorok ke arah xilem.

IV. Alat dan Bahan
Alat
Bahan
·         Cutter/silet
·         Kaca objek dan penutup kaca objek
·         Mikroskop cahaya dan/atau mikroskop binokuler
·         Pipet tetes
·         Kamera
·         Batang Amaranthus sp (Bayam)
·         Batang Pinus sp (Pinus)
·         Preparat awetan batang Zea mays (jagung)
·         Preparat awetan batang Cucurbita sp (mentimun)
·         Air

V.    Langkah Kerja
A.    Kegiatan 1
      Pengamatan pada preparat awetan sayatan melintang batang Zea mays (monokotil).
1.      Amati preparat melintang batang jagung (preparat awetan) dengan menggunakan mikroskop, mula-mula dengan perbesaran kecil kemudian lanjutkan dengan perbesaran tinggi.
2.      Dalam perbesaran kecil, amati penyebaran letak ikatan pembuluh, mulai dari bagian tepi batang hingga ke bagian tengah. Buatlah bagannya dan tunjukkan epidermis, seludang sklerenkim, ikatan pembuluh kolateral, dan jaringan dasar.
3.      Amati secara ditail satu sekor radial batang dengan perbesaran tinggi. Gambarkan detail sekor tersebut yang meliputi epidermis, korteks, ikatan pembuluh, rongga reksigen, seludang sklerenkim dan jaringan dasar. Berikan keterangan lengkap untuk gambar ditail yang anda buat.

B.     Kegiatan 2
      Struktur batang dan tipe ikatan pembuluh bikolateral pada Cucurbita.
1.      Amati penampang melintang batang Cucurbita (preparat awetan) mula-mula dengan perbesaran rendah kemudian dilanjutkan dengan perbesaran tinggi.
2.      Buat bagan penampang melintang batang Cucurbita dan tunjukan letak ikatan pembuluhnya.
3.      Buat pula gambar detail satu sektor batang Cucurbita dengan satu ikatan. Tunjukan pada gambar tersebut epidermis, korteks, ikatan pembuluh bikolateral, protoxilem, metaxilem, floem internal, dan kambium pembuluh. Tunjukan pula jaringan/sel-sel yang membentuk korteks.


C.    Kegiatan 3
1.      Buatlah sayatan melintang batang muda (yang belum mengalami pertumbuhan sekunder) Amaranthus.
2.      Amati dengan mikroskop mula-mula pada perbesaran rendah dilanjutkan dengan perbesaran tinggi. Amati penyebaran ikatan pembuluhnya.
3.      Buat pula sayatan melintang batang dewasa (yang telah mengalami pertumbuhan sekunder) dan amati dengan mikroskop.
4.      Amati penyebaran ikatan pembuluh dan bandingkan penyebaran ikatan pembuluh pada batang muda.
5.      Buat bagan dan gambar detail satu sektor untuk kedua penampang melintang yang anda amati. Tunjukkan pada gambar tersebut epidermis, korteks, xilem primer dan sekunder, floem primer dan sekunder, daerah interfasikuler dan empulur
Note: prosedur kerja dibuat bagan alur. 
 
VI. Hasil Pengamatan
A.    Kegiatan 1
Hasil pengamatan
Literature
Foto hasil pengamatan



o   Nama preparat       : Preparat Zea mays (jagung)
o   Nama Latin : Zea mays
o   Nama Indonesia : jagung
o   Nama daerah : jagong
o   Reagen : air
o   Perbesaran 10x40
o   Tanggal praktikum : 15 april 2011

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Genus: Zea
Spesies: Zea mays L.
Penjelasan:
Zea mays merupakan salah satu tumbuhan monokotil, yang memiliki ciri khas berkas pembuluhnya yaitu tersebar dan biasanya tidak beraturan atau tersebar. Pada pengamatan terhadap preparat batang Zea mays, yang dapat teramati adalah ikatan pembuluhnya bertipe kolateral tertutup dimana floem dan xilem berdampingan dan tidak dibatasi kambium. Teramati pula bahwa xilem dikelilingi floem membentuk satu ikatan pembuluh dan ikatan pembuluh tersebut tersebar tidak beraturan disetiap bagian dalam batang.





B.     Kegiatan 2
Hasil pengamatan
Foto hasil pengamatan


o   Nama preparat       : preparat Cucurbitaceae
o   Nama Latin : Cucurbita sp
o   Nama Indonesia : Mentimun
o   Nama daerah : bonteng (sunda)
o   Reagen : air
o   Perbesaran :
o   Tanggal praktikum : 15 april 2011

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: -
Sub Kelas: -
Ordo: Cucurbitales
Famili: Cucurbitaceae
Genus: Cucurbita
Spesies:Cucurbita sp.
Penjelasan:
ikatan pembuluh pada Cucurbita adalah bikolateral. Seperti kolateral, namun letak floem disebelah dalam xilem.


C.    Kegiatan 3
a.       Bayam (Amaranthus sp) tua
Hasil pengamatan
Literature
Foto hasil pengamatan


Sayatan melintang batang bayam (Amaranthus sp) tua
o   Nama preparat       : sayatan melintang batang bayam (Amaranthus sp) tua
o   Nama Latin : bayam
o   Nama Indonesia : bayam
o   Nama daerah : bayam
o   Reagen : air
o   Perbesaran: 10x10
o   Tanggal praktikum : 15 april 2011

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Sub Kelas: Hamamelidae
Ordo: Caryophyllales
Famili: Amaranthaceae
Genus: Amaranthus
Spesies: Amaranthus sp
Penjelasan:
Amaranthus sp (bayam) merupakan tumbuhan dikotil. Dimana tumbuhan dikotil memiliki berkas pembuluh yang teratur sedangkan pada hasil pengamatan di dapat bahwa berkas pembuluh pada Amaranthus sp. Terlihat tersebar. Ini merupakan bentuk anomali batang pada Amaranthus sp. Tipe dari berkas pembuluh Amaranthus sp. Merupakan tipe kolateral terbuka yaitu antara xilem dan floem terdapat kambium, akan tetapi pada hasil pengamatan tidak begitu jelas adanya kambium





b.      Bayam (Amaranthus sp) muda
Hasil pengamatan
Literature
Foto hasil pengamatan

Sayatan melintang batang bayam(Amaranthus sp) muda